Minggu, 08 Mei 2016
Rangkuman tentang Valuta Asing (VALAS) Repiyana96
RANGKUMAN
TENTANG
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VALUTA ASING (VALAS)
DI SUSUN OLEH :
REPI YANA
M.RAHMAN
M.FAHRUR’ROZI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANTAKUMA
PANGKALAN BUN
TAHUN 2016
1.
Faktor yang mempengaruhi
permintaan dan penawaran valuta asing (VALAS)
Akhir-akhir
ini media di Indonesia tengah gencar membicarakan tentang melemahnya nilai
rupiah. bahkan karena pelemahan nilai rupiah ini menyebabkan melambatnya
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II hanya
sebesar 4,2 persen. Lalu apa saja kira-kira yang mempengaruhi valuta asing
tersebut?
Terdapat
beberapa faktor permintaan serta penawaran valuta asing diantaranya;
1.
Tingkat Inflasi
Dalam
pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau
jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan
harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai
faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Apabila suatu negara
mengalami inflasi, maka bisa diidentifikasikan bahwa harga barang mahal, maka
untuk memenuhi kebutuhan akan barang/jasa negara tersebut akan melakukan
kegiatan impor dari suatu negara. Kegiatan impor tersebut membutuhkan valuta
asing. Sebagai contoh Indonesia mengalami inflasi 8% sedangkan AS 2%. Jika
sebelumnya suatu produk Indonesia berharga, misalkan Rp100.000 (USD10), maka
tahun depannya naik 8% menjadi Rp108.000 sementara produk Amerika yang tadinya
berharga sama yaitu $10 hanya naik 2% menjadi $10,2 atau Rp102.000. Akibatnya,
produk-produk AS atau barang impor terasa lebih murah daripada produk lokal
sehingga semakin banyak masyarakat membeli produk luar negeri dan membuat
permintaan terhadap dolar AS begitu besar. Jika ini terjadi, rupiah dikatakan
sudah overvalued artinya sudah dinilai ketinggian atau dolar AS dalam rupiah
sudah terlalu rendah.
2.
Tingkat Pendapatan
Laju
pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang
asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan
valuta asing relatif dibandingkan dengan supply yang tersedia.Semakin tinggi
tingkat pendapatan yang diperoleh seseorang, maka akan semakin banyak kebutuhan
yang diperlukan sehingga tentunya kita membutuhkan impor guna memenuhi
kebutuhan hidup yang tidak dapat dipenuhi pasar dalam negeri.
3. Suku bunga relatif
Kenaikan
suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para
penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal
cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada
besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu
dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri. Dengan demikian
sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang
asing terhadap mata uang dalam negeri. Apabila suatu negara memberlakukan
sistem bunga yang tinggi, maka masyarakat yang biasa memainkan valas akan
menginvestasikan uangnya.
2. Tingkat inflasi
adalah
suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di
pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat
adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga
merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah
proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya,
tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi
adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika
proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang
paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
inflasi
permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total
yang berlebihan di mana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar
sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat
harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan
permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan
terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap
faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi,
inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu
perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment di manana biasanya
lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan.
Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang
utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan
suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor
industri keuangan.
Inflasi
dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat,
dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah
angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100%
setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan
harga berada di atas 100% setahun.
3. Tingkat Suku Bunga
Menurut
Sukirno (1994:377), pembayaran atas modal yang dipinjam dari pihak lain
dinamakan bunga. Bunga yang dinyatakan sebagai persentase dari modal dinamakan
tingkat suku bunga. Berarti tingkat bunga adalah persentase pembayaran modal
yang dipinjam dari lain pihak.
Menurut
Boediono (1985:75) :
Tingkat
bunga yaitu sebagai harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu.
Pengertian tingkat bunga sebagai harga ini bisa juga dinyatakan sebagai harga
yang harus dibayar apabila terjadi pertukaran antara satu rupiah sekarang dan
satu rupiah nanti.
Jadi
tingkat suku bunga merupakan persentase dari modal yang dipinjam dari pihak
luar atau tingkat keuntungan yang didapatkan oleh penabung di Bank atau tingkat
biaya yang dikeluarkan oleh investor yang menanamkan dananya pada saham.
Menurut
teori klasik, bunga adalah bagian dari penggunaan dana yang tersedia untuk
dipinjamkan (Loanable Fund). Harga ini terjadi di pasar dana investasi, ini
terjadi dimana pada periode waktu tertentu anggota masyarakat memilki kelebihan
dari pendapatan kemudian menabung kelebihan pendapatannya.
Terdapat
dua pandangan berbeda mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat suku
bunga (Sukirno, 1994:33) :
a.
Menurut pandangan ahli ekonomi klasik, tingkat bunga dipengaruhi oleh
permintaan atas
tabungan
oleh para investor dan penawaran tabungan oleh rumah tangga.
b.
Menurut pandangan Keynes, tingkat bunga dipengaruhi oleh jumlah uang yang
beredar dan preferensi liquiditas atau permintaan uang. Preferensi liquiditas
adalah permintaan terhadap uang seluruh masyarakat dalam perekonomian.
Dalam
hubungannya dengan permintaan uang, tingkat bunga bisa dibedakan menjadi dua
yaitu tingkat bunga dalam negeri dan tingkat bunga luar negeri. Perbedaaan
tingkat bunga diantaranya disebabkan beberapa faktor Yaitu : (Sukirno, 2000:385)
a.
Perbedaan resiko, pinjaman pemerintah membayar tingkat bunga yang lebih rendah
dari pada tingkat bunga pinjaman swasta karena resikonya lebih kecil.
b.
Jangka waktu pinjaman, semakin lama waktu pinjaman semakin besar tingkat bunga.
c.
Biaya administrasi pinjaman, pinjaman yang lebih sedikit jumlahnya akan
membayar tingkat bunga yang lebih tinggi.
4. Tingkat Pendapatan dan Produksi
1.Pendapatan
Menurut
Para Ahli - Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh suatu perusahaan
dari suatu aktivitas yang dilakukannya, dan kebanyakan aktivitas tersebut
adalah aktivitas penjualan produk dan atau penjualan jasa kepada konsumen. Kata
pendapatan dalam dunia bisnis bukanlah hal yang asing. Bagi investor,
pendapatan tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan keuntungan, yang
merupakan jumlah uang yang akan diterima setelah dikurangi dengan pengeluaran.
Kieso,
Warfield dan Weygantd (2011;955)
Pendapatan
adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal
entitas selama suatu periode, jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Skousen,
Stice dan Stice (2010;161)
Pendapatan
adalah arus masuk atau penyelesaian (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman
atau produksi barang, memberikan jasa atau melakukan aktivitas lain yang
merupakan aktivitas
utama
atau aktivitas centra yang sedang berlangsung.
John
J. Wild (2003;311)
1.
Pendapatan menurut ilmu ekonomi
Pendapatan
merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu
periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti
keadaan semula.
2.
Pendapatan menurut ilmu akuntansi
Ilmu
akuntansi melihat pendapatan sebagai sesuatu yang spesifik dalam pengertian
yang lebih mendalam dan lebih terarah.
2. Produksi
Proses
diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya
sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk
memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau
menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995).
Proses
juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu
dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah
kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi
adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan
jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat
kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau
jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin,
bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
5. Pengawasan Pemerintah Terhadap
Valuta Asing
menstabilkan
kurs valuta asing. Kebijakan kurs meliputi :
a.
Devaluasi
b.
Revaluasi
c.
Pengawasan devisa
a.Devaluasi
adalah
suatu kebijakan pemerintah dengan cara menurunkan nilai mata uang dalam negeri
terhadap valuta asing tertentu, misalnya nilai kurs 1 dollar AS sebelum
devaluasi adalah Rp. 4500 setelah devaluasi 1 dollar AS = Rp. 9250. Revaluasi
adalah suatu kebijakan pemerintah dengan cara menaikan nilai mata uang dalam
negeri (rupiah) terhadap mata uang asing tertentu dengan tujuan tertentu pula.
Tujuan revaluasi ini adalah untuk memperkuat mata uang dalam negeri. Misalnya
nilai kurs 1 dollar AS sebelum revaluasi Rp. 9250 setelah revaluasi 1dollar AS
= Rp. 4500. Pengawasan Devisa adalah
suatu kebijakan pemerintah dengan cara pemerintah ikut aktif dalam pertukaran
mata uang asing dengan tujuan menstabilkan nilai kurs valuta asing.
b.Revaluasi
adalah
meningkatnya nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri. Jika
hal tersebut terjadi, maka pemerintah melakukan intervensi agar nilai mata uang
dalam negeri tetap stabil. Istilah revaluasi lebih sering dikaitkan dengan
meningkatnya nilai uang suatu negara terhadap nilai mata uang asing. Revaluasi
juga merujuk kepada kebijakan pemerintah.
c.Pengawasan
Devisa
Pengawasan
penggunaan devisa adalah tindakan Bank Sentral yang mengatur penggunaan valutas
asing untuk tujuan impor dan investasi ke luar negeri dengan tujuan agar neraca
pembayarannya seimbang.
1.
Cara melakukan pengawasan devisa
Pemerintah
melaksanakan sistem kurs berganda disusun agar dapat merangsang ekspor yang
cukup besar, sebaliknya impor barang-barang mewah jadi terbatas. Sistem ini pun
menjasa agar barang-barang yang penting artinya bagi masyarakat dan kegiatan
ekonomi Negara dapat di impor dengan harga yang wajar.
6. Campur tangan pihak asing dalam
valas
Jumlah
aliran valuta asing yang besar dan cepat untuk memenuhi tuntutan perdagangan,
investasi dan spekulasi dari suatu tempat yang surplus ke tempat yang defisit
dapat terjadi karena adanya beberapa faktor atau kondisi yang berbeda sehingga
berpengaruh dan menimbulkan perbedaan kurs valas atau forex rate masing-masing
tempat.
Posisi
Balance of Payment (BOP). Balance of Payment atau neraca pembayaran
internasional adalah suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang semua
transaksi ekonomi internasional yang meliputi perdagangan, keuangan, dan
moneter antar penduduk suatu negara dan penduduk luar negeri untuk suatu
periode tertentu, biasanya satu tahun. Dari catatan transaksi ekonomi
internasional yang terdiri atas ekspor dan impor barang, jasa, dan modal pada
suatu periode tertentu akan menghasilkan suatu posisi saldo positif (surplus)
atau negatif (defisit) atau ekuilibrum.
Tingkat
Inflasi. Agar lebih bisa dimengerti kami akan menjelaskan hal ini dengan sebuah
ilustrasi. Contoh pada keadaan semula kurs valas atau forex JPY/USD adalah
sebesar JPY 100 per USD. Diasumsikan inflasi di USA meningkat cukup tinggi
(misalnya mencapai 5 %), sedangkan inflasi di Jepang relatif stabil (hanya 1%) dan barang-barang yang dijual di Jepang
dan USA relatif sama dan dapat saling mengstubtitusi. Dalam keadaan demikian tentu
harga barang-barang di USA akan lebih mahal sehingga impor USA dari Jepang akan
meningkat. Import USA yang meningkat ini akan mengakibatkan permintaan terhadap
JPY meningkat pula. Dilain pihak kenaikan harga barang di USA akan mengurangi
impor Jepang dari USA sehingga permintaan akan USD justru menurun. Perkembangan
tingkat inflasi tersebut akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valas atau
forex, baik JPY maupun USD sehingga kurs valas atau forex rate JPY/USD bergeser
dari JPY 100/USD menjadi JPY 105 / USD kemudian menjadi JPY 110 /USD
Suku
Bunga, tidak jauh berbeda dengan pengaruh tingkat inflasi, maka perkembangan
atau perubahan tingkat bunga pun dapat berpengaruh terhadap kurs valas atau
forex rate. Sebagai contoh dengan adanya invasi USA ke Irak, maka pemerintah
USA memerlukan dana yang cukup besar untuk membiayai operasinya. Karena
permintaan dana yang besar pemerintah USA menaikan tingkat suku bunganya untuk
menarik modal luar negeri ke USA, terutama Jepang. Banyaknya valas dalam bentuk
JPY yang akan masuk ke USA akan menyebabkan peningkatan permintaan USD dan
penawaran JPY sehingga kurs valas atau forex rate JPY/USD berubah dari JPY
105/USD menjadi JPY 110/USD
Besarnya
GDP (Gross Domestic Product/Produk domestik bruto). Faktor kelima yang dapat
mempengaruhi kurs valas atau forex rate adalah pertumbuhan GDP/tingkat
pendapatan di suatu negara. Seandainya kenaikan pendapatan masyarakat di
Indonesia tinggi sedangkan kenaikan jumlah barang yang tersedia relatif kecil
tentu impor barang akan meningkat. Peningkatan impor barang ini akan membawa
efek kepada peningkatan demand valas yang pada gilirannya akan mempengaruhi
kurs valas atau forex rate dari Rp 8.500/USd menjadi Rp 8.600/USD.
Kebijakan/Kontrol
Pemerintah. Faktor pengawasan pemerintah yang biasanya dijalankan dalam
berbagai bentuk kebijakan moneter, fiskal dan perdagangan luar negeri untuk
tujuan tertentu pengaruh terhadap kurs valas atau forex rate umpamanya:
pengawasan lalu lintas devisa, peningkatan trade barrier, pengetatan uang yang
beredar, peningkatan tingkat suku bunga dan lain sebagainya. Kebijaksanaan
pemerintah tersebut pada umumnya akan berpengaruh terhadap penawaran dan
permintaan valas atau forex yang pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadap
kurs valuta asing atau forex.
7.Perkiraan, Spekulasi dan Rumor
Perkiraan,
Spekulasi dan Rumor. Bilamana adanya perkiraan/harapan bahwa tingkat inflasi
atau defisit USA akan menurun atau sebaliknya juga akan dapat mempengaruhi kurs
valas atau forex rate USD. Adanya spekulasi atau rumor devaluasi Rupiah karena
defisit current account yang besar juga berpengaruh terhadap kurs valas atau
forex rate dimana valas secara umum mengalami apresiasi. Pada dasarnya,
ekspektasi dan spekulasi yang timbul di masyarakat tersebut akan mempengaruhi
permintaan dan penawaran valas yang akhirnya akan mempengaruhi valas atau forex
rate. Demikian pula bila halnya dengan rumor, seperti sakitnya presiden atau
menteri keuangan dapat mempengaruhi sentimen dan ekspektasi masyarakat sehingga
mempengaruhi permintaan dan penawaran valas yang akan berakibat pada fluktuasi
kurs valuta asing. Salah satu contoh yang pernah terjadi adalah naiknya kurs
USD, hingga mencapai Rp 6.000/USd, karena adanya isu/rumor sekitar kesehatan
presiden pada bulan November/Desember 1997.
RANGKUMAN
TENTANG
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VALUTA ASING (VALAS)

DI SUSUN OLEH :
REPI YANA
M.RAHMAN
M.FAHRUR’ROZI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANTAKUMA
PANGKALAN BUN
TAHUN 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
